

SURAKARTA – Direktur Politeknik Bisnis dan Perpajakan Indonesia (Politeknik BPI), Rohmad Suryadi, S.Sos., M.A., menjadi salah satu narasumber dalam kegiatan Sosialisasi Ketahanan Ekonomi, Budaya, dan Masalah Sosial Masyarakat Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Jawa Tengah, Jumat (30/10/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Aula Gedung Bhuana Amerta, Kota Surakarta tersebut menghadirkan 50 peserta dari unsur organisasi kemasyarakatan (ormas), pelaku seni, dan pelaku ekonomi.
Selain Rohmad Suryadi, kegiatan ini juga menghadirkan dua narasumber lainnya, yakni Hafidz Alhaq Fatih, S.T., M.Sc., anggota Komisi A DPRD Provinsi Jawa Tengah, serta Eghar Prasetya, pengusaha sekaligus Komisaris CV Alana Creative Production.
Dalam paparannya, Rohmad Suryadi menekankan bahwa perkembangan teknologi digital membawa peluang sekaligus tantangan bagi ketahanan ekonomi masyarakat. Transformasi digital telah membuka akses yang semakin luas terhadap pasar, informasi, inovasi usaha, dan berbagai sumber penghasilan baru.
Namun, di sisi lain, perkembangan tersebut juga menghadirkan sejumlah persoalan, seperti kesenjangan literasi digital, penipuan daring, penyalahgunaan data pribadi, perubahan pola konsumsi, hingga persaingan ekonomi yang semakin ketat.
“Era digital memberikan peluang besar bagi masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi. Namun, peluang tersebut harus diimbangi dengan kemampuan literasi digital yang memadai. Masyarakat tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi harus mampu memanfaatkannya secara produktif, kreatif, dan bertanggung jawab,” ujar Rohmad.
Menurutnya, ketahanan ekonomi masyarakat tidak semata-mata diukur dari kemampuan memperoleh pendapatan, tetapi juga dari kemampuan beradaptasi terhadap perubahan, mengelola risiko, serta mempertahankan keberlanjutan usaha di tengah dinamika ekonomi digital.
Rohmad menjelaskan bahwa literasi digital memiliki peran strategis dalam membangun kemandirian ekonomi, khususnya bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), generasi muda, serta masyarakat yang mulai memanfaatkan platform digital untuk kegiatan ekonomi.
“Literasi digital bukan sekadar kemampuan menggunakan media sosial atau aplikasi. Lebih dari itu, literasi digital mencakup kemampuan memahami informasi, menjaga keamanan transaksi, memanfaatkan teknologi untuk pemasaran, serta mengambil keputusan ekonomi secara rasional,” jelasnya.
Ia mencontohkan bahwa media sosial dan platform perdagangan elektronik dapat menjadi sarana efektif bagi UMKM untuk memperluas pasar tanpa harus mengeluarkan biaya besar untuk membuka toko fisik. Namun, pelaku usaha juga harus memahami strategi pemasaran digital, pengelolaan keuangan, keamanan transaksi, dan pentingnya membangun kepercayaan konsumen.
Lebih lanjut, Rohmad mengingatkan bahwa kemajuan teknologi juga membawa perubahan terhadap budaya dan kehidupan sosial masyarakat. Pola interaksi sosial, perilaku konsumsi, hingga cara masyarakat memperoleh informasi semakin dipengaruhi oleh ekosistem digital.
Oleh karena itu, penguatan ketahanan ekonomi harus berjalan beriringan dengan penguatan nilai budaya, solidaritas sosial, dan kemampuan berpikir kritis dalam menghadapi derasnya arus informasi.
“Jangan sampai masyarakat semakin canggih dalam menggunakan teknologi, tetapi justru semakin rentan terhadap penipuan digital, perilaku konsumtif, dan informasi yang menyesatkan. Teknologi seharusnya menjadi instrumen pemberdayaan ekonomi, bukan justru menimbulkan persoalan sosial baru,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Rohmad juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan organisasi masyarakat untuk memperkuat ketahanan ekonomi berbasis digital.
Perguruan tinggi, khususnya pendidikan vokasi seperti Politeknik BPI, memiliki peran penting dalam menyiapkan sumber daya manusia yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, memiliki keterampilan kewirausahaan, serta mampu menciptakan peluang ekonomi baru.
Menurut Rohmad, pendidikan vokasi perlu terus memperkuat pembelajaran berbasis praktik, kewirausahaan digital, dan kemitraan dengan dunia usaha agar lulusan tidak hanya siap memasuki dunia kerja, tetapi juga mampu menciptakan lapangan pekerjaan.
“Ketahanan ekonomi yang kuat harus dimulai dari masyarakat yang memiliki keterampilan, kemandirian, dan kemampuan beradaptasi. Di era digital, siapa yang mampu belajar, berinovasi, dan memanfaatkan teknologi secara bijak akan memiliki peluang lebih besar untuk bertahan dan berkembang,” ungkapnya.
Melalui kegiatan sosialisasi yang diselenggarakan Kesbangpol Provinsi Jawa Tengah ini, diharapkan peserta dari berbagai unsur masyarakat semakin memahami pentingnya menjaga ketahanan ekonomi, melestarikan nilai budaya, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai persoalan sosial yang muncul akibat perubahan zaman.
Rohmad berharap kegiatan tersebut dapat menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran bersama bahwa ketahanan ekonomi bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, melainkan membutuhkan partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat.
“Masyarakat yang tangguh adalah masyarakat yang tidak takut menghadapi perubahan, tetapi mampu mengelola perubahan menjadi peluang. Literasi digital, kemandirian ekonomi, dan kekuatan nilai sosial budaya harus menjadi fondasi ketahanan masyarakat di masa depan,” pungkasnya.




